Jumat, 03 Jul 2026
Home
Search
Menu
Share
More
8 Apr 2026 13:35 - 3 menit reading

Tren “Revolusi Nutrisi” dan Intermittent Fasting Ramai di Medsos, Pakar Ingatkan Risiko Klaim Berlebihan

Views: 59

Liputandesa.id — JEPARA [ Narasi bertajuk “revolusi nutrisi” yang mendorong peralihan dari glukosa ke ketosis melalui pola intermittent fasting (IF) kembali ramai beredar di media sosial. Konten visual yang viral menyebut puasa 16 hingga 23 jam dapat memicu autophagy, menurunkan risiko penyakit, bahkan mengklaim mampu “menyembuhkan” berbagai gangguan kesehatan. Narasi ini juga dikaitkan dengan pandangan ahli gizi dan nutrisi, Djarot Winarno. (8/4/2026)

Fenomena ini semakin mencuat setelah muncul testimoni seorang pasien jantung, Ahmad Gunawan, yang mengaku kondisi kesehatannya berangsur membaik usai menjalani pola makan Ketogenic Metabolic Switching (KMS) dengan menghindari konsumsi beras dan gula.

Beredar luas infografik yang mempromosikan konsep “hijrah dari glukosis ke ketosis” melalui metode IF, mulai dari pola 16:8, 18:6, hingga 23:1. Konten tersebut mengaitkan kondisi ketosis dengan peningkatan kesehatan, energi mental, serta proses autophagy atau daur ulang sel.

Selain testimoni Ahmad Gunawan, konten juga menyinggung ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi yang meraih Nobel atas penelitiannya tentang autophagy. Namun, narasi yang beredar tidak disertai rujukan ilmiah yang utuh maupun pernyataan resmi dari lembaga kesehatan.

Narasi ini kembali viral dalam beberapa waktu terakhir seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat berbasis diet dan puasa.

Penyebaran terjadi luas di berbagai platform digital seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram, termasuk di wilayah Jakarta Pusat dan daerah lainnya.

Popularitas IF dan diet ketogenik dipicu oleh keinginan masyarakat mendapatkan solusi cepat untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Namun, penyederhanaan konsep ilmiah menjadi klaim “menyembuhkan tanpa obat” dinilai menjadi sumber utama misinformasi.

Secara ilmiah, intermittent fasting dapat membantu pengaturan berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin jika dilakukan dengan benar. Proses autophagy juga merupakan mekanisme alami tubuh dalam memperbaiki sel.

Namun, para ahli menegaskan ketosis tidak otomatis lebih sehat untuk semua orang.
Klaim “menyembuhkan kanker tanpa obat” atau semua penyakit tidak didukung bukti medis kuat.
Puasa ekstrem (lebih dari 20 jam) berisiko bagi penderita diabetes, ibu hamil, dan individu dengan kondisi tertentu.

Sementara itu, testimoni Ahmad Gunawan dinilai sebagai pengalaman personal yang tidak dapat digeneralisasi. Prosedur pemasangan ring jantung (stent) tetap merupakan penanganan medis utama berbasis bukti.

Klarifikasi atas Klaim Penyembuhan, Pernyataan bahwa “semua penyakit metabolisme dapat disembuhkan tubuh sendiri” melalui protokol tertentu, termasuk yang disebut sebagai “KETTO Fastosisi”, perlu disikapi secara kritis. Hingga saat ini, dunia medis menegaskan bahwa,
Penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung memerlukan penanganan medis jangka panjang.

Perubahan pola makan dapat membantu pengendalian, tetapi bukan pengganti terapi medis. Klaim penyembuhan total tanpa intervensi medis belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Imbauan Tenaga Medis.

Konsultasikan dengan dokter sebelum menjalani IF ekstrem. Jangan menghentikan obat tanpa rekomendasi medis. Terapkan pola makan seimbang dan berbasis kebutuhan individu.

Tren “revolusi nutrisi” dan intermittent fasting memiliki dasar ilmiah, namun klaim yang beredar di media sosial kerap berlebihan dan berpotensi menyesatkan. Masyarakat diimbau lebih kritis dalam menyaring informasi dan mengutamakan rujukan dari sumber kesehatan terpercaya.(Red-LD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *