
JEPARA — Klarifikasi yang dimuat RRI.co.id pada 17 Desember 2025 pukul 17.22 WIB berjudul “SPPG Guyangan Berikan Klarifikasi Soal Menu MBG Perdana” justru memunculkan persoalan baru. Alih-alih meluruskan polemik, isi klarifikasi tersebut dinilai bertentangan dengan fakta lapangan, keterangan pihak sekolah, serta pernyataan resmi puskesmas. Akibatnya, publik menilai klarifikasi tersebut berpotensi menyesatkan dan membingungkan.(20/12/2915).
Klarifikasi itu dimaksudkan sebagai tanggapan atas pemberitaan sejumlah media, termasuk Totabuan.news, terkait pelaksanaan perdana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SPPG Guyangan 1 Bangsri. Dalam pelaksanaan tersebut, ditemukan kejanggalan serius berupa ayam yang belum matang serta nasi yang hampir basi karena tercampur kuah.
Dalam pemberitaan RRI.co.id, Kepala SPPG Yayasan Al Mawaddah Guyangan 1, M. Nor Arif Afendi, menyatakan bahwa pihak sekolah tidak membenarkan adanya ayam berdarah. Pernyataan ini bertolak belakang dengan keterangan langsung dari pihak sekolah.

Wartawan Totabuan.news pada 28 Desember 2025 kembali mendatangi SMPN 2 Bangsri dan menemui guru yang menjadi narasumber pemberitaan pada 15 Desember 2025. Guru tersebut menegaskan bahwa ayam yang disajikan memang kurang matang, masih tampak kemerahan, serta nasi sebagian dalam kondisi tidak layak konsumsi karena tercampur kuah.
Fakta tersebut juga terkonfirmasi di lokasi oleh petugas MBG bernama Yosi. Dengan demikian, klaim bahwa “pihak sekolah tidak membenarkan” temuan ayam bermasalah terbantahkan oleh keterangan pihak sekolah sendiri.
Klaim Monitoring Puskesmas Dinilai Tidak Logis
Kejanggalan lain muncul pada pernyataan RRI.co.id yang menyebutkan.
“Setiap sepekan dua kali juga monitoring oleh puskesmas ke SPPG.” Pernyataan ini dibantah oleh keterangan tertulis resmi Kepala Puskesmas Bangsri II, Cosmas Gedsa, yang diterima Totabuan.news.
Dalam keterangannya ditegaskan bahwa monitoring dan evaluasi (monev) Puskesmas Bangsri II baru dilakukan pada Selasa, 16 Desember 2025, setelah pihak puskesmas menerima pemberitahuan bahwa SPPG Guyangan 1 telah beroperasi. Pada Senin, 15 Desember 2025, hari pertama distribusi MBG, pihak puskesmas belum menerima informasi dan belum melakukan pemeriksaan apa pun.
Dengan demikian, klaim pengawasan dua kali sepekan pada fase awal operasional dinilai tidak sesuai logika waktu dan fakta. SPPG Guyangan 1 baru beroperasi satu hari sebelumnya, sehingga mustahil telah menjalani pola pengawasan rutin sebagaimana SPPG yang telah lama berjalan.
Klarifikasi Tanpa Verifikasi, Kredibilitas Media Dipertaruhkan.
Yang menjadi sorotan, klaim mengenai pengawasan puskesmas tersebut dimuat tanpa konfirmasi langsung kepada pihak puskesmas. Akibatnya, publik disuguhi klarifikasi sepihak yang tidak diuji silang, padahal menyangkut isu serius: keamanan pangan dan keselamatan anak sekolah.
Praktik klarifikasi tanpa verifikasi dinilai berbahaya karena berpotensi menutupi persoalan substansial dan melemahkan fungsi kontrol publik terhadap program strategis negara.
Persoalan ini bukan sekadar soal selera menu atau miskomunikasi teknis. Ini menyangkut keselamatan konsumsi anak, integritas Program MBG, serta akuntabilitas penyelenggara.
Ketika fakta lapangan dibantah tanpa dasar kuat, dan klaim pengawasan disampaikan tanpa data yang dapat diverifikasi, maka kepercayaan publik menjadi taruhannya.
Publik berhak mempertanyakan Siapa yang menyampaikan informasi tidak sesuai fakta?
Mengapa klarifikasi justru bertentangan dengan keterangan sekolah dan puskesmas?
Atas dasar apa klaim monitoring dua kali sepekan disampaikan?
Media memiliki tanggung jawab moral untuk mengedepankan fakta, bukan sekadar memuat pernyataan. Klarifikasi yang tidak selaras dengan data lapangan hanya akan memperkeruh persoalan dan mencederai prinsip jurnalistik.
Totabuan.news menegaskan tetap membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak, namun akan berdiri tegak pada fakta, kesaksian narasumber, dan dokumen resmi.
Program MBG tidak boleh dilindungi oleh klarifikasi yang rapuh. Yang dipertaruhkan bukan citra lembaga, melainkan keselamatan dan hak gizi anak-anak bangsa, serta integritas Program MBG itu sendiri. Red.
.