Rabu, 28 Okt 2026
Home
Search
Menu
Share
More
27 Okt 2026 21:24 - 4 menit reading

Menteri Bappenas Luncurkan Coffee Traceability Indonesia, Inisiator Sempat Terjatuh Di Panggung, Dari Lereng Merbabu, Semeru hingga Wonosalam, Kopi Nusantara Memasuki Era Digital

Views: 36

Liputandesa.id – Surabaya, [ Pada  27 Oktober 2026 — Peluncuran Coffee Traceability Indonesia dalam rangkaian KIBAR ISMI 2026 di Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (27/10/2026), menjadi momentum pengembangan digitalisasi rantai pasok kopi nasional. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, secara resmi meluncurkan inisiatif yang ditujukan untuk memperkuat ketertelusuran produk sekaligus meningkatkan nilai tambah kopi Indonesia.

Kegiatan yang digelar oleh Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pengusaha, petani, akademisi, serta pengembang teknologi. Melalui inovasi ini, kopi Indonesia didorong tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga memiliki identitas dan informasi asal-usul yang dapat ditelusuri.

Coffee Traceability Indonesia merupakan inisiatif Agus Maksum, praktisi teknologi digital sekaligus inventor platform ekonomi digital berbasis Pancasila. Gagasan tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan penguatan daya saing kopi nasional melalui pemanfaatan teknologi.

Melalui ekosistem GENI Kopi Traceability, setiap produk kopi diarahkan memiliki identitas digital yang dapat diakses melalui QR Code. Informasi yang disajikan diharapkan mencakup daerah asal, petani, proses pengolahan, hingga perjalanan produk sebelum sampai kepada konsumen.

Dengan sistem tersebut, konsumen diharapkan dapat mengenali asal kopi secara lebih transparan, sementara petani dan pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk memperkuat identitas produk serta meningkatkan daya saing di pasar.

Kopi Merbabu, Semeru, dan Wonosalam Tampil dalam Peluncuran

Sejumlah produk kopi unggulan turut diperkenalkan dalam momentum tersebut, di antaranya Merbabu Excelsa, Semeru Robusta dari Lumajang, serta Excelsa Wonosalam dari Jombang. Jaringan Kopi Saudagar ISMI dan sejumlah pelaku usaha juga terlibat dalam upaya mengonsolidasikan produk kopi Nusantara.

Keterlibatan mahasiswa technopreneur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam pengembangan kopi Wonosalam menjadi salah satu gambaran kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku usaha, dan sektor produksi.

Sinergi tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan petani dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar. Dengan dukungan digitalisasi, informasi produk dapat disampaikan secara lebih terbuka sehingga konsumen memiliki dasar yang lebih baik untuk mengenali kopi yang dibelinya.

Terlalu Bersemangat Memperkenalkan Petani, Inisiator Sempat Terjatuh

Di tengah jalannya peluncuran, sebuah insiden spontan sempat menyita perhatian hadirin. Agus Maksum, yang memandu pengenalan petani dan konsolidator kopi, terlihat bersemangat memperkenalkan para pelaku usaha yang berada di balik produk-produk tersebut.

Agus baru sempat memanggil Sartono, pemilik Kopi Excelsa, dan Sabila selaku konsolidator. Sementara itu, masih terdapat sejumlah petani dan pelaku usaha lain yang ingin diperkenalkan kepada Menteri Rachmat Pambudy.

Namun, agenda menteri yang harus segera bertolak ke Jakarta membuat rangkaian acara perlu dipercepat menuju prosesi peluncuran. Dalam perubahan alur acara yang berlangsung cepat tersebut, Agus kehilangan keseimbangan hingga terjatuh di panggung.

Suasana ballroom sempat hening. Sejumlah orang segera memberikan bantuan. Berdasarkan keterangan dalam bahan informasi kegiatan, Agus berada dalam kondisi baik dan tidak mengalami cedera serius.

Insiden itu menjadi momen tak terduga di tengah agenda resmi. Perhatian Agus untuk memperkenalkan petani dan pelaku usaha menunjukkan pentingnya memberi ruang kepada orang-orang di balik produk lokal agar keberadaan serta kontribusi mereka turut dikenal dalam forum nasional.

Bukan Sekadar Peluncuran, tetapi Langkah Menuju Hilirisasi Digital

Dalam forum tersebut, penguatan rantai pasok menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan industri kopi. Kolaborasi antara petani, pengolah, penyedia logistik, lembaga pembiayaan, pengembang teknologi, distributor, dan pasar diperlukan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Ketua Dewan Kopi Indonesia, Roesman Heriawan, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Penerapan sistem ketertelusuran digital diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan transparansi rantai pasok, memperkuat kepercayaan konsumen, serta membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi kopi Indonesia.

Meski demikian, keberhasilan sistem tersebut akan bergantung pada penerapan di lapangan, termasuk keakuratan data, kesiapan petani, kemudahan penggunaan teknologi, biaya operasional, dan keterhubungan dengan pasar.

Manfaat ekonomi bagi petani juga perlu menjadi perhatian utama. Identitas digital akan semakin berarti apabila diikuti dengan akses pasar yang lebih baik, kepastian penyerapan produk, serta pembagian nilai tambah yang lebih adil.

Dari lereng Merbabu, Semeru, hingga Wonosalam, Coffee Traceability Indonesia membawa harapan agar kopi Nusantara semakin dikenal melalui identitas asal-usul yang jelas dan rantai pasok yang transparan.

Pesan yang ingin ditegaskan sederhana: setiap kopi memiliki asal, setiap asal menyimpan cerita, dan cerita tersebut dapat menjadi bagian dari nilai tambah produk Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi digital benar-benar memberi manfaat nyata bagi petani dan seluruh pelaku dalam ekosistem kopi nasional.(Red -LD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *