Sabtu, 12 Sep 2026
Home
Search
Menu
Share
More
11 Sep 2026 16:12 - 3 menit reading

Petambak Garam Surodadi, Mengubah Garam Biasa Jadi Beryodium Go Internasional

Views: 25

Liputandesa.id I Jepara – Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara merupakan salah satu desa yang disebut sentra penghasil garam. Boleh dibilang sebagian besar aktivitas dan lahan tambak garam rakyat, berpusat di wilayah Kecamatan Kedung.

Mayoritas warga Surodadi bermata pencaharian sebagai petani atau petambak garam, dan Desa ini dikenal sebagai penopang produksi garam rakyat yang tergolong cukup besar di wilayah Jepara, Jawa Tengah.

Seiring berjalannya perkembangan dari masa ke masa, yang dulunya para petambak garam menggunakan metode tradisional, saat ini sudah melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi seperti geomembran. Sehingga diharapkan bisa menjaga kualitas hasil panen, serta meningkatkan kebersihan garam.

“Sebagaimana hal itu diceritakan oleh Ahmad Falak (petambak dan pedagang garam) pada media”, Jumat (11/9/2026) siang.

Disela sela aktivitasnya sebagai seorang petambak, ia juga melayani beberapa pesanan garam dari luar kabupaten hingga lintas provinsi, bahkan pesanan luar negeri. Dari berbagai pesanan maupun permintaan yang sudah masuk, baik langsung ataupun via mitra.

“Iya, kadang pesanan garam itu banyak dan silih berganti, kadang bersamaa juga masuk dari berbagai orderan, dari perorangan hingga perusahaan atau skala PT. Permintaan pesanan lebih dominan didapatkan dari luar kabupaten Jepara”, ujar Ahmad Falak.

Lebih jauh, berkaitan dengan harga itu tidak pasti dan semua itu disesuaikan dengan kesepakatan, juga tergantung cuaca serta kondisi lapangan.

“Karena proses pembuatan garam di wilayah Kedung itu umumnya mengandalkan metode penguapan air laut secara tradisional maupun semi modern, sementara kendala utamanya sangat bergantung pada faktor cuaca dan stabilitas harga pasar”, terangnya.

Masih kata Falak, Yang mana jika menggunakan metode tradisional itu hanya mengandalkan air laut yang dialirkan ke dalam petak penampungan awal, saat air laut pasang, atau kadang dibantu dengan mesin pompa air.

“Sedangkan jika metode sami modern, para petambak garam harus melapisi dasaran tanah dengan plastik hitam (geomembran), dan plastik tersebut menyerap panas lebih cepat sehingga kristalisasi terjadi dalam waktu 3-5 hari. Artinya proses lebih cepat bila dibandingkan dengan metode tanah biasa yang membutuhkan waktu 7-10 an baru bisa menghasilkan garam putih dan bersih”, imbaunya.

Ia juga mengatakan, yang menjadi keresahan masyarakat sebagai seorang petambak garam, dan jadi kendala utama adalah harga jual yang Fluktuatif, artinya saat panen raya harga garam seringkali merosot tajam akibat pasokan yang melimpah atau masuknya garam impor ke pasar industri, sehingga keuntungan petani menjadi sangat minim.

“Namun, saya terus berupaya untuk memberikan yang terbaik, dan berusaha memenuhi kebutuhan lokal maupun internasional. Karena saat ini sedang mempersiapkan dan mulai memproduksi garam sendiri, yang kami olah menjadi garam konsumsi Beryodium. Garam tersebut kami diberi nama “Alfa Garam” dengan jaminan kwalitas Sehat dan Higeinis, hingga kini masih menunggu proses perijinan”, pungkasnya.
(Yusron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *