Selasa, 21 Apr 2026
Home
Search
Menu
Share
More
21 Apr 2026 10:19 - 2 menit reading

Kartini Tidak Butuh Seremoni, Perempuan Indonesia Butuh Keberpihakan Nyata

Views: 6

Liputandesa.id — Jepaea [ Setiap tanggal 21 April, bangsa ini kembali menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Kebaya dikenakan, lomba digelar, pidato dibacakan. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang jarang dijawab dengan jujur: apakah semangat Kartini benar-benar hidup, atau hanya dijadikan ritual tahunan tanpa arah?

Kartini tidak pernah memperjuangkan seremoni. Ia melawan struktur. Ia menggugat sistem sosial yang membatasi perempuan hanya pada ruang domestik. Ia menulis, berpikir, dan bergerak dalam sunyi untuk satu tujuan: kesetaraan yang nyata, bukan simbolik.

Hari ini, lebih dari satu abad setelah Kartini lahir di Jepara, kita memang melihat kemajuan. Perempuan hadir di ruang pendidikan, politik, dan ekonomi. Namun kemajuan itu tidak merata. Di banyak tempat, perempuan masih menghadapi batasan yang sama—hanya dengan wajah yang berbeda.

Masih ada perempuan yang putus sekolah karena kemiskinan. Masih ada yang terjebak dalam perkawinan dini. Masih ada yang suaranya tidak dianggap dalam pengambilan keputusan. Bahkan di ruang kerja modern, ketimpangan upah dan beban ganda masih menjadi realitas yang pahit.

Ironisnya, negara sering kali lebih sibuk membangun citra keberhasilan daripada menyelesaikan akar masalah. Program pemberdayaan diluncurkan, tetapi sering berhenti pada slogan. Kebijakan dibuat, tetapi minim pengawasan. Anggaran digelontorkan, tetapi tidak selalu berdampak.

Di sinilah letak kegagalan kita memahami Kartini.
Kartini bukan sekadar ikon emansipasi. Ia adalah kritik terhadap ketidakadilan. Jika hari ini perempuan masih dipinggirkan—baik secara halus maupun terang-terangan—maka semangat Kartini belum benar-benar diwujudkan.

Lebih jauh, perjuangan perempuan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan itu sendiri. Negara, masyarakat, dan sistem hukum harus hadir secara konkret. Pendidikan harus benar-benar inklusif. Perlindungan hukum harus tegas. Akses ekonomi harus dibuka seluas-luasnya, bukan hanya untuk segelintir.

Tanpa itu semua, “emansipasi” hanya akan menjadi jargon yang kehilangan makna.

Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi momen evaluasi, bukan sekadar selebrasi. Ini bukan tentang siapa yang paling indah berkebaya, tetapi tentang siapa yang berani memastikan perempuan tidak lagi berada di posisi yang tertinggal.

Kartini telah membuka jalan melalui gagasan yang ia tuangkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Pertanyaannya sekarang sederhana tapi mendasar: apakah kita berani melanjutkan perjuangan itu, atau justru puas menjadikannya simbol tanpa substansi?

Jika jawabannya yang kedua, maka kita tidak sedang menghormati Kartini. Kita sedang mengkhianati warisannya.
” Dan sejarah tidak pernah memaafkan bangsa yang memilih nyaman di atas ketidakadilan. Opini Red – LD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *