Kamis, 08 Okt 2026
Home
Search
Menu
Share
More
7 Okt 2026 15:47 - 4 menit reading

Temu Warga Karimunjawa, Ketua DPRD Jepara Serap Aspirasi Berbagai Persoalan

Views: 14

Liputandesa.id — Jepara [ KARIMUNJAWA,  Sebelum kapal membawanya kembali ke Jepara, Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, memilih berhenti sejenak untuk mendengarkan suara warga Karimunjawa.

Di sebuah ruang pertemuan Hotel Bukit Jatikerep, Selasa (7/10), masyarakat menyampaikan apa yang selama ini mereka hadapi. Tidak ada daftar keluhan yang dibuat untuk memperindah keadaan. Yang muncul justru persoalan sehari-hari—tentang kesehatan, pendidikan, dan bagaimana masyarakat tetap bisa bertahan ketika laut mulai berubah dan musim baratan datang.

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara masyarakat dan Ketua DPRD Jepara. Warga menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan di Karimunjawa masih menghadapi keterbatasan. Fasilitas yang tersedia dinilai belum selengkap layanan kesehatan di Jepara daratan, sementara jarak geografis membuat masyarakat harus menghadapi tantangan tersendiri ketika membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Persoalan pendidikan juga ikut mengemuka. Masyarakat berharap fasilitas pendidikan di Karimunjawa terus diperbaiki dan dilengkapi. Sebab, bagi mereka, masa depan anak-anak di kepulauan tidak boleh ditentukan oleh keterbatasan fasilitas.

Kemudian ada persoalan yang sangat dekat dengan denyut ekonomi masyarakat: pariwisata.

Karimunjawa hidup dari wisata. Namun ketika musim baratan datang, kondisi laut yang tidak bersahabat dapat membuat aktivitas wisata menurun. Bagi pelaku usaha, itu berarti lebih sedikit tamu, lebih sedikit perjalanan, dan pada akhirnya lebih sedikit pendapatan.

Mendengar berbagai persoalan itu, Agus tidak berhenti pada meja pertemuan.

Ia memilih melihat sendiri apa yang disampaikan warga.

“Kalau masyarakat menyampaikan persoalan, tugas kita bukan hanya mencatat. Kita harus turun dan melihat apakah yang disampaikan itu memang terjadi di lapangan,” ujar Agus.

Dari pertemuan tersebut, Agus kemudian melakukan monitoring ke sejumlah titik yang menjadi perhatian masyarakat. Ia meninjau fasilitas pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga SMP yang ada di Karimunjawa. Ia juga mendatangi Puskesmas Karimunjawa untuk melihat kondisi fasilitas dan pelayanan kesehatan.

Persoalan nelayan pun tidak luput dari perhatian. Agus meninjau tambatan kapal di Dukuh Nyamplungan, fasilitas yang menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari laut.

Di sektor ekonomi, Agus juga melihat langsung pusat UMKM dan biro usaha wisata yang menjadi bagian dari perputaran ekonomi masyarakat Karimunjawa.

Apa yang dilihatnya di lapangan menjadi gambaran yang lebih utuh.

Karimunjawa memang memiliki laut yang indah, pantai yang eksotis, dan potensi wisata yang luar biasa. Tetapi di balik semua itu, ada masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai, sekolah yang layak, infrastruktur pendukung nelayan, serta kepastian agar roda ekonomi tetap berjalan ketika musim wisata sedang tidak bersahabat.

“Setelah mendengar langsung dari masyarakat, saya turun melihat satu per satu. Ternyata memang ada beberapa hal yang harus kita pikirkan bersama. Ini bukan hanya persoalan satu sektor. Pendidikan, kesehatan, nelayan, UMKM, dan pariwisata semuanya saling berkaitan,” kata Agus.

### Dibawa ke Jepara, Bukan Ditinggalkan di Karimunjawa

Agus menegaskan, berbagai persoalan yang ditemukan selama kunjungannya ke Karimunjawa akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut di Jepara.

Baginya, perjalanan pulang dari Karimunjawa bukan berarti persoalan yang ditemui ikut ditinggalkan di pulau tersebut.

Justru sebaliknya, berbagai temuan dan aspirasi masyarakat akan menjadi “oleh-oleh” yang harus dibawa ke meja pembahasan DPRD bersama pemerintah daerah.

“Ini yang saya bawa pulang ke Jepara. Bukan sekadar oleh-oleh cerita, tetapi persoalan nyata yang kita lihat sendiri. Nanti kita bahas bersama eksekutif, mana yang menjadi kewenangan pemerintah daerah dan mana yang membutuhkan langkah lebih lanjut,” tegas Agus.

Ia berharap pembahasan tersebut tidak berhenti pada rapat dan rekomendasi. Setiap persoalan harus dicari jalan keluarnya berdasarkan skala prioritas dan kemampuan anggaran daerah.

“Kita tidak ingin masyarakat hanya didatangi, didengar, kemudian setelah itu selesai. Aspirasi ini harus ada tindak lanjutnya. Kalau memang menjadi kewenangan pemerintah daerah, kita dorong untuk segera ditangani. Kalau membutuhkan kebijakan yang lebih besar, kita cari jalan bersama,” ujarnya.

Menurut Agus, pembangunan Karimunjawa tidak boleh hanya dilihat dari sisi pariwisata. Keindahan alam memang menjadi magnet utama, tetapi masyarakat yang tinggal di dalamnya adalah bagian terpenting dari masa depan pulau tersebut.

Karena itu, pembangunan fasilitas dasar, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan UMKM, perlindungan terhadap nelayan, hingga strategi menghadapi musim baratan harus berjalan beriringan.

“Karimunjawa bukan hanya destinasi wisata. Ini rumah bagi masyarakat. Kalau kita ingin Karimunjawa semakin maju, maka masyarakatnya juga harus merasakan kemajuan itu,” kata Agus.

Pertemuan itu akhirnya berakhir. Kapal dan perjalanan kembali ke Jepara menunggu di depan mata.

Namun bagi Agus, kunjungan tersebut belum benar-benar selesai.

Sebab persoalan yang ia dengar dari warga kini telah berubah menjadi pekerjaan rumah—untuk dibawa ke Jepara, dibahas bersama eksekutif, dan diupayakan menjadi solusi yang benar-benar bisa dirasakan masyarakat Karimunjawa.

Di pulau yang dipuji karena keindahan lautnya itu, suara warga menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya tentang seberapa indah sebuah tempat terlihat dari kejauhan.
Tetapi tentang seberapa layak kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.(Red – LD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *