Kamis, 08 Okt 2026
Home
Search
Menu
Share
More
7 Okt 2026 15:25 - 3 menit reading

Kembali Kunjungi Nelayan Nyamplungan, Tambatan Kapal Masih Jadi Impian

Views: 12

Liputandesa.id Jepara [ KARIMUNJAWA, Di tengah laut yang menjadi sumber penghidupan, para nelayan Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa, masih harus berhadapan dengan persoalan sederhana namun sangat menentukan: tempat untuk menambatkan kapal mereka.

Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, kembali meninjau kondisi tambatan kapal nelayan di Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa, Selasa (7/10). Dari kunjungan tersebut, terlihat bagaimana fasilitas yang menjadi bagian penting dari aktivitas nelayan itu hingga kini masih jauh dari kondisi ideal.

Untuk sementara, kapal-kapal nelayan di kawasan tersebut hanya ditambatkan menggunakan kayu yang disediakan secara swadaya oleh masyarakat. Kayu tersebut harus diganti secara berkala, diperkirakan setiap tiga bulan sekali, karena tidak mampu bertahan lama menghadapi air laut dan aktivitas kapal.

Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi nelayan, tambatan kapal adalah bagian penting dari keberlangsungan pekerjaan mereka. Tanpa tempat bersandar yang layak, kapal sulit ditambatkan dengan aman, sementara kapal adalah alat utama untuk mencari nafkah di laut.

Kondisi tersebut menjadi semakin krusial mengingat sekitar 70 persen mata pencaharian masyarakat di wilayah tersebut merupakan nelayan.

“Ini bukan sekadar soal tambatan kapal. Ini menyangkut bagaimana nelayan bisa menyimpan dan menyandarkan kapalnya dengan aman, kemudian kembali melaut untuk menghidupi keluarganya,” kata Agus Sutisna.

Agus menilai kondisi tambatan kapal yang masih mengandalkan kayu swadaya masyarakat merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Menurutnya, masyarakat sudah berupaya memenuhi kebutuhannya secara mandiri, tetapi kondisi tersebut tidak seharusnya berlangsung terus-menerus.

“Kalau setiap beberapa bulan kayunya harus diganti, tentu masyarakat akan terus mengeluarkan tenaga dan biaya. Padahal ini fasilitas yang digunakan bersama dan berkaitan langsung dengan mata pencaharian warga,” ujarnya.

Ia mendorong agar ke depan tambatan kapal di Dukuh Nyamplungan dapat dibangun secara permanen dengan konstruksi yang lebih kuat dan mampu digunakan dalam jangka panjang.

Harapannya, keberadaan tambatan kapal yang layak tidak hanya memberikan rasa aman bagi kapal-kapal nelayan, tetapi juga memperlancar aktivitas mereka saat hendak melaut maupun ketika kembali dari laut.

“Harus ada solusi yang lebih permanen. Kita ingin nelayan tidak lagi berpikir setiap saat tentang apakah kapalnya bisa bersandar dengan aman. Mereka harus bisa fokus bekerja, melaut, dan menghidupi keluarganya,” tegas Agus.

Kajat (55), warga Dukuh Nyamplungan, mengatakan keberadaan tambatan kapal sangat penting bagi kehidupan nelayan di wilayah tersebut. Selama ini, masyarakat masih memanfaatkan kayu seadanya untuk membuat tempat kapal bersandar.

“Penting sekali, Mas. Kalau ada tambatan yang bagus, kapal lebih mudah bersandar. Sekarang masih pakai kayu seadanya, jadi memang harus sering diganti,” ungkap Kajat.

Menurutnya, masyarakat berharap persoalan tersebut dapat segera mendapatkan perhatian dan solusi. Sebab, bagi warga Nyamplungan, laut bukan sekadar bentang alam di sekitar rumah mereka. Laut adalah tempat mereka mencari penghasilan setiap hari.

Agus Sutisna menegaskan akan membawa persoalan tersebut sebagai bahan perhatian dan pembahasan lebih lanjut. Ia berharap kebutuhan masyarakat pesisir, khususnya nelayan Karimunjawa, dapat menjadi bagian dari pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga.

“Jangan sampai kita berbicara tentang besarnya potensi Karimunjawa, tetapi kebutuhan dasar nelayannya justru luput dari perhatian. Karimunjawa tumbuh bersama masyarakatnya. Kalau kita ingin sektor kelautan dan pariwisatanya maju, nelayannya juga harus diperhatikan,” pungkas Agus.

Di Dukuh Nyamplungan, sebuah tambatan kapal mungkin hanya terlihat seperti kayu yang menjorok ke laut. Namun bagi para nelayan, di sanalah kapal ditambatkan, pekerjaan dimulai, dan harapan untuk membawa pulang penghasilan bagi keluarga dipertaruhkan.(Red-LD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *