
Liputandesa.id [ Jepara — KARIMUNJAWA, Ada cara sederhana untuk mengetahui bagaimana sebuah hotel dikelola: menginap di dalamnya.
Itulah yang dilakukan Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, saat melakukan kunjungan ke Karimunjawa. Di tengah rangkaian kegiatannya, Agus memilih bermalam di Hotel Bukit Jatikerep, hotel milik Pemerintah Kabupaten Jepara yang berada di kawasan Karimunjawa.
Pilihan tersebut bukan sekadar persoalan tempat beristirahat. Agus ingin merasakan langsung pengalaman seorang tamu ketika datang dan menginap di hotel milik pemerintah tersebut. Dari sana, ia melihat potensi yang bisa dikembangkan sekaligus berbagai hal yang perlu dibenahi agar hotel tersebut mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk memilih bermalam.

Dari sisi bangunan dan kamar, Agus menilai Hotel Bukit Jatikerep memiliki modal yang cukup kuat. Kamar yang luas, seluruhnya berada pada kelas deluxe, fasilitas yang cukup lengkap, serta pemandangan yang langsung menghadap pantai menjadi nilai jual yang menurutnya sangat potensial.
“Kalau melihat kamarnya, luas, kelasnya sudah deluxe, fasilitasnya juga cukup lengkap. Dan yang paling penting, view-nya langsung menghadap pantai. Ini sebenarnya modal yang luar biasa,” ujar Agus.
Namun, potensi tersebut menurut Agus belum sepenuhnya diterjemahkan dalam pengelolaan kawasan hotel.
Ia menyoroti kondisi area sekitar Hotel Bukit Jatikerep yang dinilai masih kurang terawat. Penataan halaman dan lingkungan hotel, kata Agus, semestinya tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga bagian dari pengalaman wisatawan ketika menginap.
Sebab, ketika wisatawan datang ke Karimunjawa, yang mereka cari bukan sekadar kamar untuk tidur. Mereka mencari suasana, kenyamanan, pemandangan, dan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.
“Sayang kalau bangunannya bagus, kamarnya bagus, view-nya bagus, tetapi area sekitarnya kurang terawat. Ini yang harus dibenahi. Hotel milik pemerintah harus dikelola secara serius karena punya potensi untuk menjadi salah satu aset pariwisata yang menghasilkan,” tegas Agus.
Persoalan lain yang ditemui Agus justru datang dari satwa yang kerap terlihat di sekitar hotel, yakni kera ekor panjang.
Kera-kera tersebut beberapa kali turun dari habitatnya dan masuk ke area sekitar Hotel Bukit Jatikerep. Bagi pengelola, kehadiran satwa tersebut tentu perlu diantisipasi agar tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan para tamu.
Namun Agus melihat persoalan itu dari sudut pandang berbeda.
Menurutnya, keberadaan kera ekor panjang tidak harus selalu dipandang sebagai gangguan. Dengan penanganan yang tepat, satwa tersebut justru dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata Karimunjawa.
Agus mendorong adanya penataan kawasan atau titik konservasi khusus yang dapat menjadi habitat sekaligus lokasi berkumpulnya kera ekor panjang. Dengan demikian, keberadaan satwa tersebut tidak masuk secara bebas ke area hotel, tetapi tetap dapat hidup di habitat yang sesuai dan menjadi bagian dari edukasi wisata.
“Jangan hanya kita lihat sebagai gangguan. Kalau memang kera-kera ini menjadi bagian dari ekosistem di sekitar sini, kenapa tidak kita tata. Dibuatkan titik konservasi atau tempat khusus, sehingga kera tetap punya ruang hidup dan wisatawan juga bisa melihatnya secara aman,” kata Agus.
Menurutnya, konsep tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi salah satu atraksi wisata berbasis konservasi. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai, tetapi juga mendapatkan pengalaman melihat kehidupan satwa liar dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.
“Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menjadi sesuatu yang menarik. Orang datang bukan untuk memberi makan atau mengganggu satwa, tetapi belajar bagaimana hidup berdampingan dengan alam. Ini bisa menjadi nilai tambah Karimunjawa,” ujarnya.
Agus menilai Hotel Bukit Jatikerep merupakan aset pemerintah yang memiliki potensi besar. Karena itu, keberadaannya tidak semestinya hanya dipertahankan sebagai bangunan dan fasilitas penginapan, tetapi harus dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Karimunjawa.
Ia berharap Dinas Pariwisata dan pihak terkait lebih serius melihat potensi tersebut, mulai dari perawatan bangunan, penataan lingkungan, pengembangan fasilitas, hingga strategi pemasaran.
Menurutnya, pemerintah harus berani melihat aset pariwisata dengan perspektif bisnis sekaligus pelayanan publik. Hotel pemerintah harus memiliki daya tarik dan kualitas pelayanan yang membuat wisatawan memilihnya, bukan sekadar karena statusnya sebagai aset milik daerah.
“Ini aset pemerintah. Kalau aset sudah dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit, jangan sampai kemudian hanya berdiri dan berjalan apa adanya. Harus ada target, harus ada konsep pengelolaan, harus ada inovasi,” tegas Agus.
Ia juga menilai pengelolaan Hotel Bukit Jatikerep harus dikaitkan dengan potensi besar Karimunjawa sebagai destinasi wisata unggulan Jepara. Keindahan pantai, laut, pulau-pulau kecil, budaya masyarakat, hingga kehidupan satwa merupakan satu kesatuan yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.
“Karimunjawa itu sudah punya modal alam yang luar biasa. Pemerintah tinggal bagaimana mengelolanya dengan baik. Hotel, lingkungan, konservasi, pariwisata, semuanya harus terhubung,” katanya.
Bagi Agus, kunjungannya ke Hotel Bukit Jatikerep bukan sekadar menginap satu malam. Ia ingin melihat dari dekat apa yang selama ini mungkin hanya terlihat melalui laporan dan angka.
Dan dari kamar yang menghadap laut itu, satu hal menjadi jelas: Hotel Bukit Jatikerep memiliki potensi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti menjadi pemandangan indah, tetapi benar-benar dikelola menjadi pengalaman wisata yang bernilai.
“Kalau kita serius mengelola, saya yakin Hotel Bukit Jatikerep bisa menjadi salah satu pilihan wisatawan ketika datang ke Karimunjawa. Pemerintah punya asetnya, Karimunjawa punya alamnya. Tinggal bagaimana kita satukan dan kelola dengan serius,” pungkas Agus.(Red-LD).