
Liputandesa.id / Jepara – Kabupaten Jepara melakukan penerapan pola penyajian Prasmanan untuk Makan Bergizi Gratis (MBG), dan hal itu mengalami perubahan bila sebelumnya makanan dibagikan dalam wadah sekarang langsung kepada siswa. Langkah ini diambil sebagai bagian uji kelayakan dengan sistem prasmanan.
SD Kanisius Jepara menjadi sekolah pertama di Kabupaten Jepara yang mengikuti uji coba tersebut. Program ini menjadi bagian dari pengembangan model penyajian MBG yang tengah dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN).
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Jepara, Wildan Musthofa, mengatakan uji coba di SD Kanisius masih dalam skala terbatas.
“Uji coba MBG prasmanan baru dua hari berjalan. Sementara penerimanya kelas 4 dan 5 dengan jumlah 25 siswa,” kata Wildan, Selasa (6/10/2026).
Dalam sistem ini, makanan tetap dimasak di dapur SPPG. Setelah proses memasak selesai sekitar pukul 07.00 WIB, makanan kemudian didistribusikan ke sekolah sekitar pukul 08.30 WIB.
Setibanya di sekolah, makanan kemudian disiapkan untuk disajikan secara prasmanan. Para siswa mulai makan sekitar pukul 09.00 WIB dan selesai sekitar pukul 09.40 WIB.
Penerapan sistem prasmanan tersebut juga menggunakan prosedur baru. Siswa yang terlibat dalam proses pengambilan makanan diwajibkan memperhatikan kebersihan dan menggunakan perlengkapan seperti penutup kepala, masker serta sarung tangan.
Perubahan sistem ini bukan hanya soal bagaimana makanan dibagikan. Model prasmanan diharapkan dapat memperpendek jeda antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi siswa, sehingga makanan yang diterima siswa tetap dalam kondisi hangat dan segar.
Di Jepara, penerapan awal tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi bagi pengelola SPPG. Salah satu yang menjadi perhatian adalah efisiensi waktu agar kegiatan makan tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Pendampingan juga masih diperlukan. SPPG harus memastikan siswa yang terlibat dalam persiapan maupun pemorsian memahami prosedur sehingga tidak terjadi kesalahan dalam proses penyajian.
Meski masih dalam tahap uji coba, antusiasme siswa disebut cukup tinggi. Keterlibatan langsung siswa dalam proses prasmanan membuat mereka lebih aktif dan makanan yang disediakan disebut lebih banyak dihabiskan.
Menu yang diberikan juga tidak berbeda dengan MBG sebelumnya. Perbedaannya terletak pada mekanisme penyajiannya. Siswa tetap menggunakan ompreng sebagai wadah makanan.
Model prasmanan diharapkan tidak hanya membuat makanan lebih menarik bagi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan terhadap proses makan di sekolah.
Dengan siswa makan secara bersama-sama dan proses pengambilan makanan lebih terpantau, pengelola berharap potensi persoalan keamanan pangan dapat ditekan.
Namun, uji coba di SD Kanisius juga menunjukkan bahwa perubahan sistem membutuhkan kesiapan sekolah, SPPG dan siswa. Efisiensi waktu, kebersihan, pemorsian serta pendampingan menjadi bagian penting yang harus dievaluasi sebelum pola tersebut diperluas ke sekolah lainnya.
Bagi Jepara, uji coba ini menjadi langkah awal untuk melihat apakah sistem prasmanan mampu membuat program MBG bukan hanya lebih menarik bagi siswa, tetapi juga lebih efektif, aman dan terukur dalam pelaksanaannya. (Djj/Red)