
Opini
Liputandesa.id — Jepara, [ Radio lokal 94.1 FM R-Lisa Jepara menggelar kegiatan “R-LISA Off Air: Dialog dan Musik” dengan tema “Peran Media dalam Sinergitas untuk Kemajuan Jepara”. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam Minggu, 25–26 April 2026 pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Jalan Pemuda Jepara, depan SDN 2 Panggang, tepatnya di trotoar depan rumah Bapak Totok Hardtop.
Kegiatan ini merupakan forum terbuka yang menggabungkan dialog publik dan hiburan musik, sekaligus menjadi ruang diskusi kritis antara insan media, komunitas, dan masyarakat. Fokus utama adalah membedah sejauh mana media berperan dalam membangun transparansi, kontrol sosial, serta mendorong kemajuan daerah Jepara.
Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang media dan organisasi turut hadir, di antaranya Andrie Once (Ketua Sekber SWI Jepara), Eko Mulyantoro (JeparaNews)
Yosef Hidayat, S.T. (Viva News), Singgih Purwanto (Patrolibins), Susyanto/Iyan (Suara62.id), dan Edy Prasadjja (Ketua ALMI Jepara)
” Acara dipandu oleh host Dinda Kirana.
Digelar pada akhir pekan, waktu yang strategis untuk menarik partisipasi publik, acara ini mengambil lokasi ruang terbuka di pusat kota Jepara. Pemilihan tempat di ruang publik menandakan upaya mendekatkan diskusi kepada masyarakat secara langsung, tanpa sekat formalitas.
Tema yang diangkat bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, peran media di daerah kerap disorot, baik sebagai pilar demokrasi maupun sebagai pihak yang dituntut menjaga independensi. Diskusi ini menjadi relevan untuk menguji. Apakah media di Jepara sudah menjalankan fungsi kontrol sosial secara maksimal? Sejauh mana sinergi antara media, pemerintah, dan masyarakat terbangun? Apakah media benar-benar berpihak pada kepentingan publik atau justru terjebak kepentingan tertentu?
Bagaimana pelaksanaannya?
Acara ini akan disiarkan langsung melalui platform TikTok R-Lisa FM Jepara, memungkinkan jangkauan audiens yang lebih luas. Format dialog terbuka memberi ruang bagi narasumber untuk menyampaikan pandangan secara lugas, sekaligus membuka peluang interaksi dengan masyarakat.
Kegiatan ini patut dicermati bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai indikator keseriusan media lokal dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Dengan menghadirkan berbagai perwakilan media, publik bisa menilai langsung konsistensi, keberpihakan, dan integritas insan pers di Jepara.
Jika forum ini berjalan kritis dan tidak sekadar normatif, maka ia berpotensi menjadi titik awal pembenahan peran media. Namun jika hanya menjadi ajang formalitas tanpa keberanian mengungkap persoalan nyata, maka pesan “sinergitas untuk kemajuan” hanya akan berhenti sebagai slogan.
R-Lisa FM mencoba menghadirkan ruang dialog yang terbuka dan inklusif. Kini, publik menunggu: apakah forum ini benar-benar melahirkan gagasan tajam dan solusi konkret, atau sekadar menjadi panggung retorika tanpa dampak nyata bagi Jepara. ( Red – LD).