
Foto : Makanan bergizi Gratis (MBG) oleh Dapur SpPG 1 Guyangan, Bangsri, yang dikelola Yayasan Alma Al-Mawadah, di Selasa, 16/12/2025.
Liputandesa.id — Jepara, [ Pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Dapur SpPG 1 Guyangan, Bangsri, yang dikelola Yayasan Alma Al-Mawadah, menuai sorotan tajam, nasi nyaris basi picu kekhawatiran orang tua wali murid, anak bisa keracunan. Program nasional yang seharusnya menjadi langkah awal peningkatan gizi anak justru memunculkan catatan serius terkait kualitas makanan, keamanan pangan, dan profesionalisme penyelenggara., hal ini bisa memicu terjadinya keracunan masal. Selasa, 16/12/2025.
Penyaluran MBG tahap awal ini menyasar 1.484 penerima manfaat, meliputi peserta didik SMPN 2 Bangsri, PAUD Pelangi Terpadu, KB Al Anwar, KB Andika Muslimat, TK NU 2, SDN 1, dan SDN 2.
Namun, pantauan langsung wartawan di SMPN 2 Bangsri menemukan sejumlah kejanggalan dalam penyajian makanan. Menu disajikan menggunakan baki stainless berukuran kecil, berisi nasi dengan porsi terbatas, sayuran, daging ayam, jeruk kecil jenis santang, serta lumpia.

Masalah serius muncul ketika sejumlah siswa mengeluhkan daging ayam yang belum matang sempurna. Beberapa potongan ayam tampak masih berwarna merah dan mengandung sisa darah, kondisi yang jelas berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak.
Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh siswa kepada guru kelas masing-masing. Temuan ini kemudian diperkuat oleh guru kelas VII dan IX, yang menunjukkan potongan ayam dengan noda darah masih terlihat jelas. Fakta tersebut menegaskan bahwa persoalan bukan sekadar persepsi siswa, melainkan temuan nyata di lapangan.
Kondisi itu dikonfirmasi oleh Yosi, petugas pengantar MBG di SMPN 2 Bangsri, yang saat kejadian masih berada di lokasi. Saat dimintai keterangan, Yosi hanya menyampaikan alasan singkat bahwa listrik PLN padam pada malam sebelumnya, tanpa penjelasan rinci mengenai prosedur keamanan pangan atau langkah antisipasi agar makanan tetap layak konsumsi.
Tak hanya ayam setengah matang, sejumlah guru juga melaporkan kualitas nasi yang nyaris basi. Menurut keterangan mereka, nasi yang disiram kuah mengalami perubahan aroma dan tekstur, sementara nasi yang tidak disiram kuah masih dalam kondisi baik. Temuan ini memunculkan dugaan adanya masalah serius pada proses penyimpanan, distribusi, atau manajemen dapur MBG.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMPN 2 Bangsri, Agus Awalludin, menegaskan perlunya tanggung jawab dan profesionalisme penuh dari pihak penyedia MBG.
âKalau dirasa belum matang, jangan dipaksakan untuk didistribusikan. Harus diganti dengan makanan lain yang benar-benar menyehatkan, bukan justru merugikan tubuh anak-anak,â tegas Agus.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar terkait standar mutu, sistem pengawasan, serta dasar kerja sama dalam pelaksanaan program MBG. Sebagai program nasional yang menyasar anak-anak, MBG seharusnya dijalankan dengan standar keamanan pangan yang ketat dan tanpa kompromi.
Temuan ayam setengah matang dan nasi nyaris basi pada penyaluran perdana ini menjadi peringatan keras bahwa pelaksanaan MBG tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, apalagi hanya berdalih pada kendala teknis seperti pemadaman listrik.
Publik kini menantikan evaluasi menyeluruh dan tindakan tegas dari pihak terkait, agar program MBG benar-benar menghadirkan gizi dan kesehatan, bukan risiko, serta dijalankan dengan profesionalisme dan tanggung jawab penuh demi masa depan generasi muda. (Tim-Red).