Selasa, 12 Mei 2026
Home
Search
Menu
Share
More
Maskuri Jepara pada Ekonomi Jepara Redaksi
5 Mei 2025 20:02 - 2 menit reading

Dari Selametan Ke Festival Budaya Memeden Gadu Transformasi Tradisi Manganan Di Desa Kepuk Jepara

Views: 93

Liputandesa.id — Jepara [ InvestigasiMabes.com, Senin, 5 Mei 2025. Desa Kepuk, yang terletak di Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, memiliki sebuah tradisi unik yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat, yaitu tradisi Manganan. Tradisi ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dilaksanakan setiap tahun pada hari Senin Pahing di Bulan Apit, di kompleks makam tokoh pendiri desa, Dewi Kasmonah atau Mbah Mbolem.

Secara harfiah, Manganan berarti makan bersama. Tradisi ini dilangsungkan dalam bentuk selametan di pepundhen desa. ā€œManganan adalah bentuk rasa syukur warga kepada Allah SWT atas rahmat-Nya, sehingga masyarakat bisa hidup damai dan sejahtera,ā€ ujar Jatmiko, tokoh masyarakat Desa Kepuk.

Namun, Jatmiko mengakui bahwa tradisi ini sempat nyaris punah. Generasi muda tidak lagi terlibat aktif, dan pelaksanaannya hanya dilakukan oleh tokoh masyarakat serta kalangan tua. ā€œKami melihat ada kegelisahan karena mulai hilangnya tradisi dan lesunya kegiatan sosial kepemudaan,ā€ katanya.

Dari keprihatinan itu, muncullah gagasan untuk mengemas kembali Manganan dalam bentuk acara budaya yang lebih menarik. Maka, lahirlah Festival Memeden Gadhu, sebagai pengembangan dari tradisi pertanian lokal.

Memeden Gadhu, Simbol Ketekunan Petani. Sawah Ghadu adalah sawah yang tak pernah kekeringan sepanjang tahun. Meski kemarau tiba, sawah ini tetap ditanami padi, berbeda dengan sawah lain yang beralih ke tanaman non-padi. Karena selalu berair, sawah ghadu rentan diserbu burung pipit saat padi mulai menguning. Inilah yang kemudian menginspirasi petani membuat orang-orangan dari jerami untuk menakuti burung, yang dikenal sebagai Memeden Gadhu.

Dalam festival, Memeden Gadhu tidak hanya berfungsi sebagai pengusir hama, tetapi juga diangkat sebagai karya seni rakyat. Warga membuatnya secara gotong-royong, mulai dari pengumpulan jerami, bambu, pakaian bekas, hingga perakitan memeden yang menggambarkan karakter masyarakat: petani, anak sekolah, hewan, dan lainnya. Memeden tersebut menghiasi jalanan desa dan menjadi simbol kehidupan agraris warga Kepuk.

Seni Pertunjukan: Sendratari Kolosal Memeden Gadhu. Festival Memeden Gadhu juga menghadirkan seni pertunjukan kolosal berupa sendratari yang menggambarkan aktivitas pertanian secara tradisional. Warga dari berbagai usia terlibat aktif. Para orang tua dan pemuda memerankan Pak Tani, dengan gerakan khas seperti mencangkul dan membajak. Sementara para ibu berperan sebagai Ibu Tani, lengkap dengan atribut tradisional seperti caping, tampah, kebaya, jarik, dan kerudung.

ā€œSendratari ini menjadi bentuk ekspresi budaya dan kebersamaan masyarakat, serta upaya konkret dalam menjaga warisan budaya leluhur,ā€ pungkas Jatmiko.

Festival Memeden Gadhu kini menjadi ikon budaya Desa Kepuk, sekaligus upaya pelestarian tradisi lokal yang menyatukan generasi tua dan muda dalam semangat gotong royong dan cinta budaya. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *