
Liputandesa.id / Jepara – Perumda Air Minum Tirta Jungporo Kabupaten Jepara menegaskan bahwa pembenahan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat terus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Adanya sejumlah keluhan pelanggan di beberapa wilayah menjadi bahan evaluasi dan tidak berarti PDAM berhenti melakukan perbaikan.
Sepanjang 2026, PDAM Jepara fokus melakukan pembenahan pada sejumlah sektor, mulai dari penambahan sumber air baku, peningkatan kapasitas produksi, perbaikan distribusi, hingga penyehatan keuangan perusahaan. Jumat (18/9/2026) siang.
Lima Sumur Baru Mulai Beroperasi
Dalam keterangannya, Dirut (PDAM) Tirta Jungporo Kabupaten Jepara, Lukman Hakim menjelaskan salah satu langkah konkret yang dilakukan PDAM pada 2026 adalah pembangunan lima sumur baru sebagai sumber air baku, yakni dua sumur di desa Bulungan, Kecamatan Pakis Aji, dan 2 (dua) sumur di desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, serta 1 (satu) lagi sumur di Kelurahan Bapangan, Kecamatan Jepara.
“Pembangunan sumur baru tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat pelayanan di wilayah Kecamatan Jepara Kota dan sekitarnya yang memiliki jumlah pelanggan cukup besar sekaligus menghadapi kebutuhan air yang tinggi. Dan direncanakan sejumlah sumur baru tersebut mulai beroperasi pada September 2026. Dengan tambahan sumber air tersebut secara bertahap mulai meningkatkan pasokan ke jaringan distribusi,” ujarnya.
Ia juga mengatakan dampaknya mulai dirasakan di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami aliran kurang lancar atau tekanan air yang belum optimal, seperti di Bulungan, Bapangan, Saripan, Pengkol, Potroyudan, Krapyak, Demaan, Karang Bagusan, Kuwasen, Wonorejo, Kedungcino dan Bandengan.
“Setelah sumber air baru mulai beroperasi, aliran di sejumlah wilayah tersebut secara bertahap mulai membaik. Namun, kami tetap melakukan evaluasi distribusi karena kondisi setiap wilayah berbeda,” jelas Lukman.
Menurutnya, persoalan pelayanan air tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber air. Kondisi jaringan, tekanan, kapasitas pipa, elevasi wilayah dan pola pemakaian pelanggan juga turut memengaruhi distribusi hingga ke rumah pelanggan.
Karena itu, PDAM terus melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap sumber produksi maupun jaringan distribusi agar tambahan air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kami mengakui masih ada wilayah yang pelayanan airnya belum maksimal. Terlebih pada musim kemarau, debit sejumlah sumur produksi dapat mengalami penurunan. Karena itu, setiap hari kami terus mengecek dan mengevaluasi sumber-sumber produksi agar tetap dapat beroperasi secara optimal,” ungkap Lukman.
Target Perbaikan Berlanjut ke Wilayah Kedung
Dalam perencanaan, tutur Lukman, di tahun 2026 ini, Pembenahan pelayanan tidak hanya di wilayah kota saja, PDAM juga menargetkan peningkatan pelayanan wilayah selatan 2, di Desa Kedung dan sekitarnya, termasuk melalui pembangunan sumber air baru untuk mendukung kebutuhan air di wilayah Kedungmalang dan sekitarnya, di targetkan bulan November sudah selesai dan beroperasi.
Sementara untuk 2027, PDAM Jepara telah menyiapkan rencana peningkatan pelayanan di sejumlah wilayah yang masih menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan air.
“Wilayah yang saat ini masih memiliki persoalan pelayanan akan terus kami petakan. Dari pemetaan tersebut kemudian kami tentukan langkahnya, apakah melalui penambahan sumber air, perbaikan jaringan, pengaturan distribusi atau langkah teknis lainnya,” ungkapnya.
Tunggakan Rp7,6 Miliar, Rp6,1 Miliar Berhasil Ditagih
Lebih jauh, sedangkan pembenahan PDAM tidak hanya dilakukan dari sisi teknis. Penyehatan keuangan perusahaan juga menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan pelayanan.
Salah satu persoalan yang dihadapi PDAM Jepara adalah tunggakan pelanggan aktif yang nilainya cukup besar.
Berdasarkan data per 31 Desember 2025, tunggakan pelanggan aktif mencapai sekitar Rp7,6 miliar. Sebagian pelanggan bahkan memiliki tunggakan selama satu tahun, dua tahun, bahkan lebih, meskipun sambungan airnya masih aktif dan pelanggan tetap menggunakan layanan air PDAM.
Kondisi tersebut menjadi perhatian manajemen karena piutang yang tidak tertagih akan memengaruhi arus kas perusahaan. Padahal, perusahaan membutuhkan kemampuan keuangan yang memadai untuk membiayai operasional, pemeliharaan jaringan, perbaikan fasilitas dan pengembangan pelayanan.
Karena itu, sepanjang 2026 PDAM memperkuat langkah penagihan kepada pelanggan yang memiliki tunggakan.
Hasilnya, hingga September 2026, dari total tunggakan sekitar Rp7,6 miliar, telah berhasil ditagih sekitar Rp6,1 miliar.
“Penagihan tunggakan merupakan bagian dari pembenahan perusahaan. Ketika piutang dapat ditekan dan penerimaan meningkat, kemampuan perusahaan untuk menjaga operasional dan melakukan perbaikan pelayanan juga semakin kuat,” jelas Lukman.
Masih Ada Kekurangan, Tetapi Pembenahan Berjalan
Masih kata Lukman, PDAM Jepara mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, manajemen menegaskan bahwa persoalan pelayanan yang masih muncul berjalan bersamaan dengan proses pembenahan yang terus dilakukan.
Kritik dan masukan dari masyarakat maupun media tetap menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan. Manajemen berharap kondisi PDAM dapat dilihat secara utuh, tidak hanya dari persoalan yang terjadi, tetapi juga dari langkah perbaikan dan capaian yang telah dilakukan.
Kami tidak mengatakan semua persoalan sudah selesai. Masih ada yang harus kami perbaiki. Tetapi kami memastikan pembenahan terus berjalan, baik dari sisi sumber air, distribusi, pelayanan maupun keuangan perusahaan.
“PDAM Jepara berkomitmen melanjutkan pembenahan secara bertahap dan terukur, dengan tujuan utama meningkatkan ketersediaan air, memperbaiki kontinuitas distribusi, memperkuat kondisi perusahaan, dan memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat Kabupaten Jepara,” pungkasnya.
(Yusron)