Senin, 28 Sep 2026
Home
Search
Menu
Share
More
5 Sep 2025 13:30 - 2 menit reading

Campursari Jepara Terdampak Aksi Anarkis Mahasiswa Bakar Gedung DPRD Jepara, Pekerja Seni Siap Bantu Jaga Kondusifitas

Views: 218

Liputandesa.id — Jepara [ Aksi unjuk rasa mahasiswa yang berujung anarkis dengan membakar dan menjarah gedung DPRD Kabupaten Jepara pada Sabtu (30/8/2025) malam, menimbulkan dampak luas terhadap pekerja seni campursari. Puluhan seniman mengaku kehilangan jadwal manggung dan terpaksa menganggur.

Pimpinan Orkes Campursari Sekar Gumelar, Duwok, menyampaikan keluhan para anggotanya. Menurutnya, bukan hanya pemain campursari yang merasakan kerugian, tetapi juga pekerja sound system, kru panggung, hingga pedagang UMKM yang biasa berjualan di lokasi pertunjukan.

“Banyak agenda manggung yang sudah terjadwal harus dibatalkan. Para pekerja seni campursari mengaku sangat dirugikan, bahkan dampaknya juga dirasakan pedagang kecil,” jelas Duwok, Kamis (4/9/2025).

Sejumlah pekerja seni meluapkan kekecewaan melalui media sosial. Mereka menilai aksi mahasiswa telah kebablasan dan merusak kehidupan ekonomi rakyat kecil. Salah satu unggahan bernada kesal menuliskan.

“Iki Jeporo leet… Ndue toto kromo. Demo-demo’o sak ndoweh cangkemu, ojo brutal anarki. Aku lan konco-konco pekerja seni dadi melok imbase. Pak Kapolres, gabres mawon seng anarki. Salam Seni Indonesia.

Menurut Duwok, sejak Kamis (4/9/2025), para seniman campursari Jepara aktif berkomunikasi secara daring. Mereka bersepakat untuk ikut membantu aparat keamanan dalam meredam potensi aksi anarkis lanjutan yang direncanakan pada Jumat (5/9/2025).

“Pelaku seni campursari Jepara sudah cukup solid. Kami akan membantu aparat keamanan menjaga kondusifitas dan menolak keras segala bentuk provokasi,” tegasnya.

Duwok menegaskan bahwa dunia seni campursari tidak terkait dengan politik, tetapi memiliki ketergantungan besar pada stabilitas keamanan. Jika situasi kacau, maka pertunjukan seni dan perekonomian yang melingkupinya ikut lumpuh.

“Seni campursari bukan urusan politik, tetapi sangat membutuhkan stabilitas. Kalau chaos, maka perdagangan, investasi, dan kegiatan seni terhenti. Kami yang paling dulu merasakan dampaknya,” ujarnya.

Para pekerja seni mengimbau semua pihak menjaga suasana Jepara tetap kondusif. Mereka mendorong komunikasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, kepolisian, TNI, tokoh agama, hingga masyarakat sipil.

“Kami berkomitmen memperkuat hubungan baik dengan siapa pun demi keamanan bersama. Stabilitas harus dijaga agar kegiatan ekonomi, khususnya seni campursari, tetap hidup dan berkembang,” pungkas Duwok.Red.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *