Rabu, 04 Nov 2026
Home
Search
Menu
Share
More
3 Nov 2026 08:39 - 4 menit reading

Tak Hanya Bicara Dorper Cross, H. Drs. Junarso Ungkap Praktik Pertanian Terpadu Yang Telah Berjalan

Views: 30

Liputandesa.ud [ JEPARA  – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jepara dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Drs. Junarso, tidak sekadar memberikan dukungan terhadap program ekonomi kerakyatan berbasis peternakan domba Dorper Cross Garut yang digagas Ahmad Gunawan. Ia ternyata telah lebih dahulu mengembangkan konsep Integrated Farming atau pertanian terpadu dalam skala kecil secara mandiri.(3/11/2016).

Hal tersebut terungkap dalam diskusi antara H. Drs. Junarso dan Ahmad Gunawan pada Minggu (1/11/2026), di kawasan Perhutani, Jalan Ahmad Yani, Pengkol, Jepara. Dalam pertemuan tersebut, Junarso menjadi narasumber yang memaparkan pengalaman serta praktik pengembangan sejumlah usaha produktif yang mengintegrasikan sektor peternakan, perikanan, hortikultura, dan perkebunan buah.

Junarso mengungkapkan, kegiatan yang telah dikembangkannya meliputi pemeliharaan ayam petelur, ayam pedaging, budidaya ikan lele, tanaman sayuran, hingga tanaman buah tahunan seperti alpukat, mangga, dan durian.

Menurutnya, pengembangan berbagai sektor tersebut merupakan bagian dari konsep pertanian terpadu skala kecil yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus membuka beberapa sumber pendapatan.

“Selain mendukung pengembangan peternakan domba Dorper Cross Garut, saya juga sudah mengembangkan Integrated Farming dalam skala kecil. Mulai dari memelihara ayam petelur, ayam pedaging, lele, sayur-sayuran, hingga tanaman buah seperti alpukat, mangga, dan durian,” ungkap Junarso dalam diskusi tersebut.

Dalam pemaparannya, Junarso menjelaskan bahwa prinsip utama Integrated Farming adalah membangun keterkaitan antarsektor usaha agar kegiatan peternakan, perikanan, pertanian, dan perkebunan dapat saling mendukung.

Salah satu pendekatannya melalui pemanfaatan limbah organik peternakan sebagai bahan pupuk kompos untuk tanaman. Sebaliknya, sisa hasil pertanian yang memenuhi persyaratan dapat diolah menjadi bahan pakan ternak.

Pola tersebut diharapkan mampu mengurangi limbah, mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, serta menekan sebagian biaya produksi. Dengan demikian, kegiatan usaha tidak hanya bergantung pada satu komoditas, melainkan memiliki beberapa potensi sumber penghasilan.

Pengalaman Junarso tersebut menjadi salah satu bahan pembahasan dalam merancang pengembangan peternakan Dorper Cross Garut agar tidak berjalan secara parsial, tetapi terhubung dengan kegiatan usaha produktif lainnya.

Dalam diskusi yang sama, Ahmad Gunawan memaparkan bahwa program pengembangan domba Dorper Cross Garut dirancang melalui tiga tahapan, yakni sektor hulu, budidaya, dan hilir.

Pada sektor hulu, program diarahkan pada penyediaan bibit domba Dorper Cross Garut, pembangunan kandang sesuai kebutuhan ternak, serta penyediaan pakan fermentasi berbahan baku limbah pertanian yang telah melalui proses pengolahan.

Pada sektor budidaya, calon peternak direncanakan mendapatkan pendampingan teknis dari Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI). Pengembangan ini juga diarahkan untuk diintegrasikan dengan usaha ayam petelur, ayam pedaging, budidaya lele, tanaman sayuran, dan perkebunan buah.

Sementara pada sektor hilir, program mencakup pengolahan hasil ternak, pemasaran daging, serta pemanfaatan kotoran domba sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung produktivitas kebun.

“Jadi peternak tidak hanya mendapatkan penghasilan dari domba, tetapi juga dari telur, lele, sayur, dan buah. Satu lahan bisa menghasilkan banyak sumber pendapatan. Ini yang kita sebut ekonomi kerakyatan berkelanjutan,” ujar Ahmad Gunawan.

Konsep tersebut menempatkan peternak bukan hanya sebagai pemelihara ternak, tetapi juga sebagai pelaku usaha produktif yang memiliki peluang mengembangkan beberapa komoditas sekaligus.

Program peternakan domba Dorper Cross Garut yang dikombinasikan dengan konsep Integrated Farming tersebut direncanakan masuk dalam usulan program APBD Kabupaten Jepara Tahun Anggaran 2027.

Dukungan dan pandangan Junarso dalam diskusi diharapkan dapat memperkuat pembahasan gagasan pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis peternakan dan pertanian terpadu.

Sebagai tahapan awal, program direncanakan diawali dengan seminar dan seleksi calon peternak. Seleksi tersebut dimaksudkan untuk menjaring masyarakat yang memiliki pengalaman, komitmen, serta kesiapan dalam menjalankan usaha peternakan.

Pendekatan ini menjadi penting agar program tidak berhenti pada pengadaan bibit maupun pembagian ternak. Aspek pendampingan teknis, ketersediaan pakan, pengelolaan kandang, keberlanjutan produksi, pengolahan hasil, dan akses pemasaran juga perlu dipersiapkan sejak awal.

Namun demikian, rencana memasukkan program tersebut dalam APBD 2027 masih harus melalui mekanisme perencanaan, penganggaran, pembahasan, dan persetujuan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan menggabungkan pengalaman Integrated Farming skala kecil yang telah dikembangkan Junarso dan gagasan pengembangan peternakan Dorper Cross Garut dari Ahmad Gunawan, program ini diarahkan untuk membangun pola usaha ekonomi produktif yang saling terhubung.

Tantangannya bukan hanya menyediakan bibit dan membangun kandang, melainkan memastikan seluruh mata rantai usaha berjalan, mulai dari penyediaan pakan, pemeliharaan ternak, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Di situlah keberlanjutan ekonomi kerakyatan perlu dibuktikan melalui pelaksanaan program di lapangan.(Redaksi – LD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *