
Liputandesa.id — JEPARA [ (20/5/2026) – Di tengah terik matahari pagi yang menyinari halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara, suasana upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-118 berlangsung khidmat. Namun, di balik barisan peserta yang rapi dan pengibaran bendera merah putih, ada satu pesan yang langsung menusuk kesadaran: jangan biarkan tunas bangsa tumbang oleh zaman.
Pesan itu disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, usai mengikuti upacara peringatan Harkitnas 2026 yang mengusung tema nasional “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.”
Upacara yang digelar Rabu (20/5/2026) di halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara itu dihadiri oleh Wakil Bupati Jepara Ibnu Hajar, Dandim 0719/Jepara beserta jajaran Forkopimda, serta seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Jepara. Ratusan peserta tampak serius mengikuti jalannya upacara, mulai dari pengibaran bendera hingga pembacaan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Viada Hafid, yang menegaskan pentingnya transformasi dari kedaulatan teritorial menuju kedaulatan digital.
Bagi Agus Sutisna, upacara ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di sela-sela acara, ia menyoroti satu fakta yang sering diabaikan: “Anak-anak kita adalah tunas bangsa. Tapi tanpa bekal yang tepat, mereka bisa tumbang. Bukan karena musuh dari luar, tapi karena zaman yang berubah begitu cepat.” Ia pun menyebut ada tiga bekal hidup yang harus segera diberikan kepada generasi muda Jepara, dan itu tidak bisa ditawar.

Pertama, pendidikan yang membebaskan, bukan membebani. Menurut Agus, pendidikan bukan hanya nilai rapor, tetapi kemampuan berpikir kritis, berani bertanya, dan tidak mudah dimanipulasi. Ia menekankan bahwa sistem pendidikan harus melahirkan anak-anak yang tangguh secara intelektual, bukan sekadar patuh secara administratif.
Kedua, keberanian moral. “Tunas bangsa harus berani. Berani mengatakan tidak pada perundungan. Berani menolak hoaks. Berani membela kebenaran meski sendirian,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa keberanian tidak lahir dari ruang yang nyaman, tapi dari lingkungan yang melatih integritas sejak dini.
Ketiga, literasi digital yang bukan sekadar bisa buka medsos. Agus menjelaskan bahwa literasi digital hari ini bukan sekadar bisa scrolling media sosial, tetapi mampu memilah mana fakta dan mana racun digital. Ia mendukung penuh kebijakan PP TUNAS (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025) yang melindungi anak di bawah 16 tahun dari akses media sosial berisiko tinggi. “Itu bukan pembatasan. Itu penyelamatan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Agus Sutisna menutup dengan kalimat yang tak kalah tajam: “Kita tidak boleh hanya bangga dengan sejarah kebangkitan 1908. Pertanyaannya sekarang: apakah kita sedang menyiapkan kebangkitan generasi berikutnya, atau justru membiarkan mereka runtuh oleh algoritma?”
Peringatan Harkitnas 2026 di Jepara pun menjadi lebih dari sekadar seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa kebangkitan sejati hanya akan terjadi jika tunas bangsa dijaga, bukan hanya dari kelaparan atau kebodohan, tetapi juga dari hentakan zaman yang tak pernah berhenti bergerak.(Maskur).